Teknologi Informasi untuk Pelayanan Sekolah Minggu

 

Berkat kemajuan teknologi, maka pelayanan kita menjadi lebih efektif dan efesien. Tulisan ini akan membagikan pengalaman menerapkan teknologi informasi di dalam pelayanan Sekolah Minggu:

1.    Belanja Internet

Melalui dunia maya, kita bisa mendapatkan ide dan bahan pengajaran secara melimpah. Dengan bertanya pada Google, maka kita akan mendapatkan tautan-tautan situs yang relevan. Melalui internet ini kita bisa mendapatkan bahan berupa teks (bacaan), gambar, suara dan video.

Bahan berupa teks meliputi kurikulum, ide cerita, permainan, aktivitas, tips praktis dll.  Sebagian besar materi ini ditulis dalam bahasa Inggris. Jika Anda kesulitan berbahasa Inggris, Anda dapat memanfaatkan fasilitas Google Translate. Terjemahannya memang masih belum sempurna, namun fasilitas sangat menolong Anda untuk memahami isi tulisan itu. Kita juga dapat memanfaatkan internet untuk mencari gambar atau foto yang dapat mendukung pengajaran. Misalnya, Anda akan bercerita tentang “Orang Samaria yang Baik Hati”, maka dengan mengetik “Good Samaritan” di Google Image, maka Anda bisa memilih gambar-gambar yang cocok untuk alat peraga maupun untuk aktivitas anak.

Anda juga dapat menelusuri internet untuk mencari lagu-lagu pujian. Misalnya Anda ingin belajar lagu baru, maka Anda bisa mencari di media simpan on-line. Anda juga bisa mengunduh file-file dalam format midi untuk dimainkan di keyboard Anda.

Saya juga memanfaatkan internet untuk mencari video. Dengan menambahkan unsur video dalam cerita, maka anak-anak lebih antusias dalam menyimak cerita. Kebanyakan video ini menggunakan bahasa asing. Untuk itu, biasanya saya menambahkan teks terjemahan. Video ini hanya diputar pada anak-anak di kelas besar. Sedangkan untuk anak-anak di kelas kecil, mau tak mau harus mencari video dengan bahasa Indonesia atau melakukan sulih suara (dubbing) pada video berbahasa asing.

2.    Ngeblog

Jika pada poin pertama saya mengambil bahan-bahan pengajaran dari internet, maka dalam poin kedua ini saya memberikan bahan-bahan pengajaran ke dunia maya melalui aktivitas blogging atau lebih keren disebut ngeblog. Ngeblog adalah aktivitas mengunggah tulisan, suara atau gambar ke dunia maya. Melalui blog, saya membagikan pengalaman, ide, gagasan, tips atau kiat dalam mengajar Sekolah Minggu. Dengan melakukan ini, maka kita telah ikut membedayakan GSM yang lain. Kiriman tulisan, gambar atau suara kita akan terpasang selama 24 jam dan bisa diakses oleh siapa saja di seluruh dunia.

3.      Media Sosial

Media sosial seperti facebook, googleplus,plurk, atau  twitter adalah pengembangan dari blog. Di dalam media sosial ini, kita bisa membangun hubungan dengan teman-teman. Melalui jejaring sosial ini kita bisa mengabarkan aktivitas kita dengan lebih cepat.  Saya ingin berbagi pengalaman saat  memanfaatkan media sosial dalam tanggap bencana.

Saat gunung Merapi erupsi tahun 2010, saya terjun sebagai relawan. Untuk menyebarluaskan aktivitas kami, maka saya berusaha menyempatkan diri untuk mengabarkan kegiatan pos kemanusiaan melalui Facebook, Twitter dan milis yang saya ikuti.

Saat berada di lokasi bencana, sedapat mungkin saya melaporkan perkembangan terbaru melalui pesan teks. Saya kirim SMS pada beberapa orang tentang situasi dan kondisi di wilayah bencana. Saya juga aktif menulis update status Twitter dan Facebook menggunakan HP. Selanjutnya, jika sudah sampai di posko maka saya mengunggah foto dan video.

Informasi yang diunggah di Facebook ternyata memiliki efek bola salju. Posting-an saya muncul pada dinding (wall) milik lebih dari 1000 teman saya. Ketika saya memberi tanda (tag) pada seseorang, maka posting-an saya juga muncul di semua dinding milik orang-orang yang berteman dengan orang itu. Ketika teman saya membagikan (share) info yang saya unggah, maka semakin banyak orang yang terdedah oleh informasi itu. Demikianlah, lama-kelamaan orang-orang mulai berminat dengan aksi kemanusiaan yang kami lakukan. Satu-persatu mulai berkomentar dan mengirimkan pesan pribadi untuk menanyakan cara untuk memberikan bantuan kemanusiaan, baik itu dari  dari kantong pribadinya, tempat kerjanya, atau gerejanya. Ada yang mentransfer uang, mengirimkan barang, bahkan ada yang mengirimkan pulsa!

Selain itu, kami juga mendapatkan kenalan-kenalan baru melalui jejaring ini. Ada seorang relawan veteran di Jakarta yang rupanya diam-diam memantau dan mengamati kegiatan kami dari jauh. Dia memberikan rekomendasi kepada sebuah gereja untuk menyalurkan bantuannya melalui kami. Padahal kami belum pernah sekali pun bertemu muka dengan muka. Lalu ada seorang perempuan di Jakarta yang berminat bergabung dalam salah satu aksi yang kami selenggarakan. Saya belum pernah bertemu dengannya. Kami hanya berteman dan berinteraksi melalui Facebook. Hingga suatu hari dia menulis pesan bahwa ingin ikut kegiatan kami. Meski waktunya mepet, namun dia berhasil mendapatkan tiket pesawat sehari sebelumnya. Keesokan harinya, dia terbang kembali ke Jakarta usai bergabung dengan kegiatan kami.

Tidak hanya di Indonesia, informasi yang kami sajikan ternyata juga diakses di luarnegeri, seperti di Singapura, Australia, dan Amerika Serikat.

Dari pengalaman ini. Saya melihat bahwa media sosial dapat dimanfaatkan untuk mempublikasikan kegiatan-kegiatan di Sekolah Minggu. Kita dapat mengunggah foto-foto aktivitas Sekolah Minggu sehingga orangtua anak-anak Sekolah Minggu menjadi terkesan. Kita juga dapat menginformasikan agenda-agenda acara di Sekolah Minggu. Grup di FB dapat dimaksimalkan untuk koordinasi antar GSM.

4.       SMS Massal

Saat ini handphone tidak menjadi barang yang mewah. Menurut catatan Asosiasi Telepon Seluler Indonesia (ATSI), saat ini, sekitar 180 juta penduduk Indonesia sudah menjadi pelanggan layanan seluler. Itu berarti, sudah sekitar 60 persen populasi di tanah air sudah memiliki perangkat telekomunikasi. Potensi ini harus dimanfaatkan.

Kita tidak mungkin mengetik dan mengirim SMS satu demi satu. Untuk itulah ada sistem pengiriman SMS secara massal. Dengan sebuah software, maka kita dapat mengirimkan ratusan SMS dalam sekali klik, secara serentak. Saya mengembangkan sistem informasi ini untuk gereja dan tim tanggap bencana. Kegunaannya macam-macam, tapi terutama untuk penyampaian info darurat. Misalnya, jika ada salah seorang membutuhkan donor darah, maka saya dapat mengirimkan SMS pemberitahuan ke ratusan orang. Juga bermanfaat untuk mengirimkan undangan acara atau pemberitahuan layatan.

Bagaimana dengan pulsanya? Dengan persaingan  yang tinggi, maka operator seluler berlomba-lomba menawarkan tarif SMS murah. Misalnya, operator “T”menawarkan SMS gratis tak terbatas dengan biaya Rp. 550,-/hari. Dengan tarif yang kurang lebih sama, operator “A” membebaskan kita kirim 10.000 SMS tak berbayar. Sementara operator “X” menggunakan sistem bayar bulanan. Dengan membayar Rp. 25 ribu/bulan, kita bisa kirim SMS sepuasnya pada siang hari.

Selain pengiriman info darurat, aplikasi SMS massal ini juga digunakan untuk:

Menggantikan kertas undangan dan pemberitahuan. Anak-anak Sekolah Minggu kadang lupa menyampaikan surat pemberitahuan kepada orangtua mereka. Jika kita sudah memiliki database nomor-nomor HP orangtua dari anak SM, maka kita dapat mengirimkan informasi penting kepada mereka.

Sebagai reminder acara. Kadang orangtua lupa kalau anak memiliki acara tertentu di luar hari Minggu. Karena itu SMS dapat mengingatkan mereka untuk mengajak dan mengantar anak ke gereja.

Memberikan penghiburan dan penguatan. Setiap hari, minimal ada satu ayat Firman Tuhan yang dikirimkan ke orangtua. Diharapkan, orangtua membacakan ayat itu kepada anak-anak mereka.

Ucapan selamat ulangtahun. Setiap hari dikirimkan ucapan selamat ulangtahun kepada orangtua yang anaknya sedang berulangtahun. Info ini juga dikirimkan ke orangtua yang lain, supaya mereka bisa ikut mengucapkan selamat ultah. Dampaknya tercipta kehangatan di antara orangtua anak Sekolah Minggu.

Demikian pengalaman singkat saya dalam memanfaatkan TI untuk Sekolah Minggu

Leave a Reply